Thursday, July 22, 2010

Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaraan KeIndonesiaan

Judul Asli: The Vernacular Press and the Emergence of Modern Indonesia
Penerjemah: Amarzan Loebis, Mien Joebhar
Pengarang: Ahmad Adam
Penerbit: Hasta Mitra
Cetakan: 2003
Tebal: 339 hlm.


Ahmat Adam yang lahir di Malaya pada 1941 itu menulis Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Indonesia. Dalam bukunya ini ada sekitar 225 surat kabar masuk dalam daftar penelitiannya.

Dimulai dari Bataviase Nouvelles. Pers pertama di Nusantara itu terdiri selembar kertas. Bataviase Nouvelles terbit pada 1744 dengan bahasa Belanda. Lembaran berita lelang ini bisa didapatkan tiap Senin. Tapi setahun kemudian, tak lagi dijumpai. VOC takut pamornya tersaingi.

Jejak-jejak tercetak yang dilacak Ahmat Adam menabalkan ide Ben Anderson tentang kapitalisme cetak. Sebuah pers adalah jalan. Ia memperlancar bahasa di Hindia Belanda. Bahasa, tanah air atau lebih tepat lingkungan sosial, ekonomi, budaya, dan politik itulah yang berdialektika menjadi bangsa. Imagined Communities, kata Ben Anderson.

Bahasa Pembeda Bangsa
Apa yang ditulis Ahmat Adam ialah embrio. Ia belum sampai pada janin: apa yang lantas disebut bangsa. Jauh sebelum jabang bayi Indonesia lahir. Embrio yang rentan terhadap pada sesuatu yang meruntuhkan. Segalanya masih mengira-irapada yang akan terjadi. (yang orang pikirkan di jaman itu, barangkali hampir serupa dengan yang kita pikirkan tentang masa depan Indonesia)

Bataviase Nouvelles yang terbit di Batavia dengan bahasa Belanda ternyata toh bukan yang menjadi pendanda bangsa di Nusantara. Meski koran ini ia yang mulai terbitan tercetak di Nusantara. Sampai jabang bayi Indonesia lahir, bukan bahasa Belanda yang menjadi pengantar. Melainkan bahasa Indonesia.

Model seperti Bataviasche Koloniale Courant di jaman Daendles ternyata bukan menjadi tipe pers-pers pribumi. Meski ide penerbitan surat kabar dari Gubernur Jendral, Daendles pada 1809 ini memberi sumbangan dalam sejarah pers di Hindia Belanda.

Daendles menggabungkan Perusahaan Cetak Kota dengan percetakan Benteng (swasta) menjadi Landsdrukkerij (Percetakan Negara). Penggabungan perusahaan cetak ini bukan tanpa makna. Dengan perusahaan cetak yang dimiliki negara, media semakin massif menyebar. Daendles menggunakan media ini untuk memberitahukan reformasi tata pemerintahan yang dipimpinnya ke seluruh Hindia Belanda.

Namun Bataviasche Koloniale Courant, koran yang dirintis Daendles, baru bisa terbit pada 1810. Kabar selanjutnya, Daendles harus angkat kaki dari Hindia Belanda pada 1811. Bataviasche Koloniale Courant berhenti terbit pada 2 Agustus 1811. Ide ini kandas karena “koisideinsi” sejarah: Prancis kalah melawan Inggris.

Meski dalam catat sejarah selanjutnya ada model pers corong kekuasaan seperti ini. Tapi itu pun jauh setelah Bataviasche Koloniale Courant berhenti terbit. Dan bukan bahasa Prancis-lah yang tertanam di Hindia Belanda.

Lantas?

Bromartani. Surat kabar ini terbit di Surakarta dengan bahasa Jawa. Terbit perdana pada 25 Januari 1855. Pemimpin CF Winter Sr. dan putranya, Gustaaf Winter. Dua orang bangsa Belanda yang katam berbahasa Jawa.

Bahasa yang dipergunakan pun tak tanggung; bahasa Jawa krama inggil. Sebagaimana diketahui dalam tingkatan bahasa Jawa, krama inggil menempati urutan pertama. Di bawahnya, bahasa Jawa krama dan ngoko (bahasa Jawa kasar).
Bagaimanapun, meski berbahasa Jawa, Bromartani mengawali terbitan yang melawan arus besar. Terbit di tengah-tengah surat kabar-surat kabar yang cenderung memakai bahasa Belanda.

Berturut-turut setelah Bromartani terbit, pembukaan jaringan telegram (1856), pos (1862), dan jalur kereta api (1867) dibuka di Hindia Belanda. Dalam kehidupan pers, teknologi menjadi jalan yang memudahkan perkembangan pers. Berita-berita kian cepat dan mudah tersampaikan.

Ternyata bukan bahasa Jawa yang pada ujungnya dipilih sebagai bahasa bangsa di Hindia Belanda. Bukan bahasa Jawa yang menjadi patokan. Meski status jawa menjadi pusat kolonial.

Orang Tiong Hoa dengan kekuatan modalnya berperan penting dalam pembentukan bangsa. Koran-koran yang cenderung komersiil ini-lah yang mendukung proses penyebaran bahasa melayu. Tentu saja dengan bahasa Melayu ala Tiong Hoa.

Jika ditilik dari segi kebangsaan, di sinilah tampak jasa baik kapitalisme. Tanpa modal, nyaris ide-ide tak tersampaikan. Tak mungkin disimak. Apapun bentuk modal itu (bukan saja uang) berjasa dalam penyebaran ide.

Bahkan Ahmat Adam berani mengatakan:
“Di Sumatera, pers hanya berkembang di beberapa kota atau kota besar di wilayah pemerintahan di Pantai Barat dan Aceh, serta di Pantai Timur Keresidenan Tapanuli dan Palembang. Pertumbuhan pers di daerah-daerah ini sangat bergantung pada denyut ekonomi kota untuk mendukung sirkulasi surat kabar dan berkala di kalangan pedagang dan penduduk setempat.” (hlm. 212)

Di tempat-tempat itulah bahasa Melayu berkembang. Tapi bahasa Melayu murni ternyata bukan yang menjadi “aspal” dalam konteks pembentukan bangsa di Hindia Belanda. Ia bukan perekat. Bukan juga yang menjadikan jalanan kebangsaan itu mudah dilewati.

Di sinilah nampak peranan Tirto Adhi Soerjo yang tak bisa diremehkan di Hindia Belanda. Ia pertama kali bangsawan Jawa yang mampu menerbitkan pers tanpa bayang-bayang kolonial. Medan Prijaji yang diterbitkannya pada 1907 ialah pemula. Sebab ia pribumi. Di situ ia menulis bahasa melayu. Bahasa Melayu yang pada periode selanjutnya--di Papua, Maluku, Sumbawa, Flores, Bali, sebagian besar Kalimantan, Sumatera, Jawa--bermetamorfosa menjadi bahasa Indonesia.

Dalam masa zaman yang bergerak bahasa menunjukan bangsa. Bahasa yang menjadi jeda antara kami dan mereka. Antara pribumi dan kolonial. Antara yang menghegemoni dan dihegemoni. Antara yang melawan dan dilawan. Yang kemudian disebut sebagian sebagai era peregerakan.

Terlebih bangsa dan penunjuk bangsa berupa bahasa itu terlihat pada bahasa yang sering digunakan Marco. Bahasa melayu yang terkadang melawan tata bahasa Melayu. Penuh adopsi dan campuran dari sana-sini. (lihat penggambaran Rudolf Mrazek dalm Engineer of Happy Land dan Ben Anderson dalam Imagined Communities terhadap gaya bahasa Marco)
Inilah awal sejarah pers di Nusantara. Jauh sebelum dunia mengenal blog. Ketika setiap orang bisa membuat medianya sendiri. Memberitahukan dirinya. Membuatnya dirinya unik, berbeda, di tengah arus masa globalisasi.

Uniknya di tengah dunia yang menggoblal, kita semakin individual, tetapi sekaligus universal. Tak ada batas ruang dan waktu di dalam blog, pada internet.

Beda dengan jaman itu, abad ke-18 sampai 19, mesin cetak jumlahnya terbatas. Hanya kalangan tertentu yang memilikinya. Para misionaris, pada mulanya yang memiliki mesin cetak. Selebaran yang dicetak itu untuk mendukung missionaris mereka.

Sekarang, mungkinkah di Indonesia kini jejak dalam dunia maya. Sesuatu yang ada meski kita tak bisa menyentuhnya. Akankah kita jadi legenda di tengah dunia yang serba maya? Sejarah belum berakhir.

Tapi Ahmad Adam menulis ketika Indonesia sudah ada. Disertasinya tentang sejarah pers ia selesaikan pada sekira 1983(?). Sebagaimana apa yang dilakukan para sejarawan lain. Sebuah kelemahan dalam metodologis sejarah yang tak mungkin bisa dihindari. Melihat masa lalu dari masa kini dengan bertumpuk-tumpuk ideologi, tatanan sosial, ekonomi, politik, dan budaya menjejali sejarawan.

Penelitian Ahmat Adam pun memberi keuntungan: ia tahu persis beda bahasa Melayu versi Malaysia dan versi Indonesia. Yang kelak tentu berguna bagi pembentukan bangsa. Barangkali, Ahmat Adam bisa mengetahui bangsanya, Malaysia, setelah membaca pers-pers yang pernah hidup di Hindia Belanda.

Sumber (http://bukukuno.blogspot.com/2007/05/jejak-yang-tercetak.html)

No comments:

Post a Comment